Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Agustus 2014

Kerangka Kualifikasi Nasional Pendidikan (KKNI)

Kita tidak dapat menghindar dari arus globalisasi. Terlebih lagi Indonesia sudah meratifikasi GATS (General Agreement on Trade in Sevices) dan AFTA (ASEAN Free Trade Area)  maka globalisasi dan perdagangan bebas antar negara tidak bisa dielakkan lagi. Arus globalisasi akan membawa dampak bahwa mulai tahun 2015 setiap negara tidak akan boleh lagi mencegah masuknya (1) arus barang dan jasa; (2) arus investasi; dan (3) arus sumber daya manusia yang kompeten. Jika bangsa Indonesia tidak menyiapkan secara sungguh-sungguh dalam meningkatkan sumber daya manusia yang kompeten, maka bisa jadi akan masuk tenaga kerja asing yang memiliki daya saing lebih tinggi dan dipekerjakan di berbagai sektor industri dan jasa.
 
Karena itulah diperlukan pengakuan kualifikasi sumberdaya manusia Indonesia melalui upaya peningkatan pengakuan dan penyetaraan kualifikasi baik di dalam dan di luar negeri. Melalui pengakuan kualifikasi sumber daya manusia Indonesia, kompetensi individu akan diketahui dan dapat disandingkan pada ranah pekerjaan atau bidang tugasnya. Pengakuan itu dilakukan melalui pedoman yang disebut dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
.
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia atau selanjutnya disebut KKNI adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. KKNI dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 08 Tahun 2012 serta merupakan pelaksanaan ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional (Sislatkernas).
KKNI merupakan sistem yang berdiri sendiri dan merupakan jembatan antara sektor pendidikan dan pelatihan untuk membentuk sumber daya manusia nasional berkualifikasi (qualified person) dan bersertifikasi (certified person) melalui skema pendidikan formal, non formal, informal, pelatihan kerja atau pengalaman kerja.
Pengertian kualifikasi sebagaimana diatur dalam Prespres tersebut adalah penguasaan capaian pembelajaran yang menyatakan kedudukannya dalam KKNI. Sedangkan jenjang kualifikasi adalah tingkat capaian pembelajaran yang disepakati secara nasional, disusun berdasarkan ukuran hasil pendidikan dan/atau pelatihan yang diperoleh melalui pendidikan formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja. Kualifikasi adalah sebuah istilah yang secara internasional disepakati sebagai pencapaian penguasaan seseorang atas badan pengetahuan dengan keluasan dan kedalamannya yang telah didefinisikan terlebih dahulu.
KKNI adalah kerangka kualifikasi yang disepakati secara nasional, disusun berdasarkan suatu ukuran pencapaian proses pendidikan sebagai basis pengakuan terhadap hasil pendidikan seseorang yang diperoleh melalui pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Dengan adanya KKNI ini akan merubah cara melihat kompetensi seseorang, tidak lagi semata ijazah tapi dengan melihat kepada kerangka kualifikasi yang disepakati secara nasional sebagai dasar pengakuan terhadap hasil pendidikan seseorang secara luas yang akuntabel dan transparan.
KKNI terdiri dari 9 (sembilan) jenjang kualifikasi, dimulai dari jenjang 1 (satu) sebagai jenjang terendah sampai dengan jenjang 9 (sembilan) sebagai jenjang tertinggi. Jenjang kualifikasi KKNI tersebut terdiri atas:
  1. jenjang 1 sampai dengan jenjang 3 dikelompokkan dalam jabatan operator;
  2. jenjang 4 sampai dengan jenjang 6 dikelompokkan dalam jabatan teknisi atau analis;
  3. jenjang 7 sampai dengan jenjang 9 dikelompokkan dalam jabatan ahli.
Setiap jenjang kualifikasi pada KKNI memiliki kesetaraan dengan capaian pembelajaran yang dihasilkan melalui pendidikan, pelatihan kerja atau pengalaman kerja.
Penyetaraan capaian pembelajaran yang dihasilkan melalui pendidikan dengan jenjang kualifikasi pada KKNI dapat dilihat pada bagan berikut ini.
 

 

Selasa, 26 Februari 2013

Kurikulum 2013



Mau tidak mau, suka tidak suka, kurikulum 2013 harus kita sambut dengan semangat baru untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Meskipun masih banyak pro dan kontra terkait dengan perubahan yang terjadi, tetapi dilihat dari niat baik dan perkembangan teknolgi yang terjadi, emmamg perlu dilakukan beberapa revisi terkait dengan kurikulum pendidikan Indonesia.

Sebagaimana yang disampaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui situs resminya di http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id/main/pengantar, disampaikan bahwa:


Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan. Disamping kurikulum, terdapat sejumlah faktor diantaranya: lama siswa bersekolah; lama siswa tinggal di sekolah; pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi; buku pegangan atau buku babon; dan peranan guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan.

Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.

Sejumlah hal yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013 adalah (a) Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output] memerlukan penambahan jam pelajaran; (b) Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran [KIPP dan MELT di AS, Korea Selatan]; (c) Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat, dan (d) Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial.

Sementara itu, Kurikulum 2006 memuat sejumlah permasalahan diantaranya: 
  1. Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional;
  2. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan;
  3. Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum;
  4. Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global;
  5. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru;
  6. Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan
  7. Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.
Tiga faktor lainnya juga menjadi alasan Pengembangan Kurikulum 2013 adalah, 
  1. tantangan masa depan diantaranya meliputi arus globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, dan ekonomi berbasis pengetahuan. 
  2. kompetensi masa depan yang antaranya meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang efektif, dan kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda.
  3. fenomena sosial yang mengemuka seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial (social unrest). Yang keempat adalah persepsi publik yang menilai pendidikan selama ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.

Minggu, 30 Oktober 2011

Kegiatan Pembelajaran Aktif di Kelas

Guru sebagai pendidik adalah seorang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan bangsa. Tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat, maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu masyarakat dan negara sebagian besar bergantung pada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru. Makin tinggi pendidikan guru, makin baik pula mutu pendidikan dan pengajaran yang diterima anak, dan makin tinggi pula derajat masyarakat. Oleh sebab itu guru harus berkeyakinan dan bangga bahwa ia dapat menjalankan tugas itu dan berusaha menjalankan tugas kewajiban sebaiknya sehingga dengan demikian masyarakat menginsafi sungguh-sungguh betapa berat dan mulianya pekerjaan guru.Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang mulia, baik ditinjau dari sudut masyarakat dan negara maupun ditinjau dari sudut keagamaan. Tugas seorang guru tidak hanya mendidik. Maka, untuk melaksanakan tugas sebagai guru tidak sembarang orang dapat menjalankannya.

Proses belajar mengajar merupakan interaksi edukatif yang dilakukan oleh guru dan siswa di dalam situasi tertentu. Mengajar atau lebih spesifik lagi melaksanakan proses belajar – mengajar bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan dapat terjadi begitu saja. Tanpa ada perencanaan maka proses belajar mengajar tidak akan mencapai seperti hasil yang akan diharapkan. Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh guru di dalam kelas yaitu :

a. Menigkatkan Partisipasi Siswa Secara Aktif dalam Kelas

Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar, sedangkan belajar proses dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dengan demikian aktifitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.

Aktivitas belajar siswa dapat digolongkan ke dalam beberapa hal, antara lain :

1. Aktivitas visual, seperti membaca, menulis, melakukan eksprimen dsb;

2. Aktivitas lisan, seperti bercerita, tanya jawab, dsb;

3. Aktivitas mendengarkan, seperti mendengarkan penjelasan guru, mendengarkan pengarahan guru dsb;

4. Aktivitas gerak, seperti melakukan praktek di tempat praktek/laboratorium;

5. Aktivitas menulis, seperti mengarang, membuat surat, membuat karya tulis mengerjakan tugas dsb.

Setiap aktivitas yang digolongkan memiliki kadar atau bobot yang berbeda, tergantung pada segi tujuan mana yang akan dicapai dalam kegiatan pembelajaran tetapi, aktivitas kegiatan pembelajaran siswa di kelas hendaknya lebih banyak melibatkan siswa, atau lebih memperhatikan aktivitas siswa .

Guru boleh meningkatkan keterlibatan siswa dengan cara sebagai berikut :

1. Tingkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan berbagai metode mengajar;

2. Berikanlah materi pelajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran;

3. Usahakan agar pembelajaran lebih menarik minat siswa. Untuk itu guru harus mengetahui minat siswa dan mengaitkannya dengan bahan pembelajaran;

b. Memelihara Keterlibatan Siswa dalam Proses Belajar-menagajar

Unsur – unsur aktivitas yang dapat ditampilkan oleh guru pada aspek ini adalah : (a) menyediakan lembaran kerja bagi setiap siswa, (b). mengajukan banyak pertanyaan dan berusaha memperoleh jawaban dari semua siswa, (c). jawaban – jawaban yang tepat dihargai, demikian pula jawaban yang tidak tepat diarahkan secara baik., (d). mengadakan simulasi dan permainan peranan, (e). memantau kemajuan siswa ketika memberikan umpan balik dengan tujuan agar bisa memberikan sebuah umpan balik yang sistematis dan bisa memperbaiki tiap kesalahan, entah dalam pendapat sebelumnya dalam penyampaian, dan (f). membantu siswa berpikir kritis memcahkan masalah, dilemma, atau situasi yang mengandung konflik.

c. Menjadi Motivator bagi Siswa

Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Seorang pendidik diharuskan untuk memompa semangat anak didiknya untuk belajar dengan tekun. Dengan motivasi tersebut, anak didik akan merasa dihargai dan dipercaya.

Berikut ini beberapa cara bagaimana membangkitkan motivasi siswa :

1. Pada awal kegiatan pembelajaran, guru sebaiknya memberikan apersepsi tentang tujuan pembelajaran itu, sehingga siswa terpancing untuk memperhatikan.

2. Guru mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan yang realita.

3. Guru berusaha mendorong siswa dalam belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran;

4. Guru hendaknya banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk meraih sukses dengan usahanya sendiri;

5. Menguatkan siswa dengan adanya pretest dengan imbalan nilai plus.

d. Membuat Pembelajaran Menarik Minat dan Perhatian Siswa

Sering kali terjadi kebosanan dan bahkan sampai membuat siswa ngantuk di kelas karena kurang ketertarikan dari pembelajaran yang dibawakan oleh seorang guru kelas akibatnya kelas tidak efektif. Sementara kondisi pembelajaran yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu.

Keterlibatan siswa dalam pembelajaran erat kaitannya dengan sifat, bakat dan kecerdasan siswa. Pembelajaran yang dapat menyesuaikan sifat, bakat dan kecerdasan siswa merupakan pembelajaran yang diminati. Oleh karena itu guru harus bisa membuat pembelajaran yang akan dibawanya bisa menarik minat dan perhatian dari siswa dengan mengadakan variasi dalam kegiatan belajar mengajar yang berguna mengurangi kejenuhan/kebosanan atau kejenuhan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar siswa senantiasa lebih bersemangat, tekun, antusias, dan berpartisipasi penuh dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan.

Pengadaan variasi yang tepat dalam kegiatan belajr mengajar dapat memungkinkan guru untuk :

a. Menimbulkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar

b. Mewujudkan dengan baik kesempatan berkembangnya bakat siswa

c. Membentuk dan mengembangkan sikap positif siswa terhadap guru dan sekolah melalui berbagi cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.

d. Memberi kesempatan yang luas bagi siswa untuk memperoleh cara-cara menerima dan memahami pelajaran yang disenanginya.


e. Menyiapkan dan Menggunakan Berbagai Media yang relevan dalam Pembelajaran.

Media pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Sebab, pembelajaran yang mengggunakan banyak verbalisme tentu akan membosankan. Sebaliknya pembelajaran akan lebih menarik, bila siswa merasa senang dan gembira setiap menerima pelajaran dari gurunya.

Pembelajaran yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman kongkret yang dibantu dengan sejumlah alat peraga dengan memperhatikan dari segi nilai dan manfaat alat peraga tersebut dalam membantu menyukseskan proses pembelajaran di kelas.

Dengan mengefektikan kelas, maka tujuan Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 akan terlaksana dengan baik.

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com

Sabtu, 06 Agustus 2011

Potensi Otak Peserta Didik

Ketika aku baca salah satu artikel mengenai pengembangan otak peserta didik, seketika aku tertarik dengan bahasan mengenai teori pembelajaran yang berorientasi otak peserta didik atau lebih sering dikenal Brain Based Learning, berikut salah satu artikel yang menjelaskan konsep pembelajaran tersebut :
Oleh : Asep Syafa’at, Trainer Makmal Pendidikan



Padang Ekspress (10/7) – ”Duduk diam di tempat terbatas adalah salah satu hukuman yang paling berat yang dapat dijatuhkan kepada manusia. Namun inilah yang sering kita lakukan kepada siswa kita di kelas” (Edward T. Hall)
Keistimewaaan terhebat manusia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya terletak pada kemampuan berpikirnya sebagai manusia berbudaya.
Namun alangkah malangnya ketika potensi otak kita sebagai modalitas utama untuk berpikir tidak diberdayakan secara optimal. Bahkan sekolah yang idealnya diharapkan berperan sebagai komunitas untuk memberdayakan kemampuan berpikir siswa pun kadang kurang memperhatikan fakta pentingnya penggunaan otak dalam proses pembelajaran.
Pada tahun 1970, Paul McClean mulai memperkenalkan konsep Triune Theory yang mengacu pada proses evolusi tiga bagian otak manusia. Dalam hipotesisnya, McClean menyatakan bahwa otak manusia terdiri dari tiga bagian penting— otak besar (neokorteks), otak tengah (sistem limbik), dan otak kecil (otak reptil)—dengan fungsi masing-masing yang khas dan unik.Otak besar (neokorteks) memiliki fungsi utama untuk berbahasa, berpikir, belajar, memecahkan masalah, merencanakan, dan mencipta. Kemudian, otak tengah (sistem limbik) berfungsi untuk interaksi sosial, emosional, dan ingatan jangka panjang. Otak kecil (otak reptil) sendiri menjalani fungsi untuk bereaksi, naluriah, mengulang, mempertahankan diri, dan ritualis.
Triune Theory merupakan sebuah temuan penting yang harus direspons secara positif oleh dunia pendidikan, terutama dalam kaitannya untuk mengembangkan sebuah strategi pembelajaran yang berbasis otak dan memberdayakan seluruh potensi diri siswa.Kecenderungan umum yang hadir di ruang kelas sekolah kita adalah terjadinya pembelajaran tradisional yang relatif hanya memfungsikan otak kecil semata, di mana proses pembelajaran yang terjadi bersifat teacher centered dengan menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran dengan aktivitas utamanya untuk menghafal materi pelajaran, mengerjakan tugas dari guru, menerima hukuman jika melakukan kesalahan, dan kurang mendapatkan penghargaan terhadap hasil kerjanya.
Situasi pembelajaran seperti ini jika terus dipertahankan akan membawa dampak yang buruk bagi siswa, di mana kondisi ini akan memunculkan sikap kegagalan dan mempertahankan diri. Siswa akan merasa apa yang mereka kerjakan bukan merupakan apa yang mereka inginkan. Jika terjadi sesuatu di luar keinginan siswa, maka dia akan berusaha untuk berbohong atau menutupi apa yang mereka rasakan dan alami dalam kegiatan pembelajaran. Kondisi ini jelas merupakan sebuah hal yang kontraproduktif terhadap terciptanya kegiatan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.
Brain based learning menawarkan sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran dengan berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi otak siswa. Tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam implementasi brain based learning. Pertama, menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa.Dalam setiap kegiatan pembelajaran, sering-seringlah guru memberikan soal-soal materi pelajaran yang memfasilitasi kemampuan berpikir siswa dari mulai tahap pengetahuan (knowledge) sampai tahap evaluasi menurut tahapan berpikir berdasarkan Taxonomy Bloom. Soal-soal pelajaran dikemas seatraktif dan semenarik mungkin—misal, melalui teka-teki, simulasi games, dsb—agar siswa dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa.
Kedua, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Hindarilah situasi pembelajaran yang membuat siswa merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat di dalamnya. Lakukan pembelajaran di luar kelas pada saat-saat tertentu, iringi kegiatan pembelajaran dengan musik yang didesain secara tepat sesuai kebutuhan di kelas, lakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan permainan-permainan menarik, dan upaya-upaya lainnya yang mengeliminasi rasa tidak nyaman pada diri siswa. Howard Gardner—dalam Buku Quantum Learning karya De Porter, Bobbi, & Mike Hernacki—menyatakan bahwa seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya.
Ketiga, menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa (active learning). Siswa sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan sendiri. Bangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan siswa beraktivitas secara optimal, misal mata siswa digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan siswa bergerak untuk menulis, kaki siswa bergerak untuk mengikuti permainan dalam pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan berdiskusi, dan aktivitas produktif anggota badan lainnya. Merujuk pada konsep konstruktivisme pendidikan, keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh seberapa mampu mereka membangun pengetahuan dan pemahaman tentang suatu materi pelajaran berdasarkan pengalaman belajar yang mereka alami sendiri.
Pembelajaran merupakan proses sederhana yang harus mereka lakukan dan alami sendiri untuk membangun pengetahuan dan kebermaknaan belajar yang kelak akan mereka dapatkan.Apakah mungkin brain based learning dapat dipraktikkan dan dikembangkan di ruang kelas sekolah kita? Kemauan dan kemampuan guru untuk mereformasi pengembangan-pengembangan baru dunia pendidikan di tataran praktis adalah kunci sukses meningkatnya kualitas pembelajaran melalui brain based learning. Tanpa itu semua, mimpi kali yee…

Jumat, 03 Juni 2011

Cara Install UBUNTU 11.04 Natty Narwhal

Pada hari Kamis kemarin, tepatnya tanggal 28 April 2011, versi terbaru Ubuntu telah resmi dirilis dan siap untuk diunduh.

Pada Ubuntu 11.04 yang berkodekan nama Natty Narwhal ini, juga diperkenalkan Unity Interface sebagai desktop bawaan. Mengapa demikian? Pasalnya, Unity kini juga menjadi sesi desktop default. Unity juga memiliki launcher yang dibekali banyak feature, seperti drag and drop. Aktifitas short cut menggunakan keyboard juga sudah didukung penuh di versi 11.04 ini.

Penasaran dengan Natty Narwhal? berikut kami sebutkan beberapa bocoran yang ada pada Ubuntu 11.04:
- Mendukung Firefox terbaru 4.0 sebagai peramban bawaan
- LibreOffice 3.3.2 yang dimasukkan sebagai aplikasi perkantoran.
- Banshee 1.9.5 sebagai pemutar musik dan diintegrasikan dalam menu suara.
- X.org 1.10.0 dan Mesa 7.10.1
- Kernel 2.6.38-7.39
- GCC 4.5
 Ikuti langkah berikut untuk mengistallnya :

1. Download ISO Ubuntu dari ubuntu.com atau kambing.ui.ac.id dan kemudian burn ke CD atau Buat USB External Drive Instaler dengan UNetbootin. http://unetbootin.sourceforge.net/

2. Ubah setting bios dan buat komputer untuk melakukan boot dari CD atau USB External Drive.

3. Pada layar “Welcome”, silakan pilih bahasa : English atau Bahasa Indonesia (atau yang lain, bebas saja sesuai selera).
 4. Pada layar “Preparing to Install Ubuntu” perhatikan syarat yang diperlukan :
minimal 4.4 GB drive space
kabel power terpasang
terhubung ke internet. (tidak apa-apa jika tidak)
Pilihan “Download updates while installing boleh dicontreng jika terhubung ke internet. Pilihan “Install this third-party software” sebaiknya dipilih untuk bisa memainkan file MP3, kenapa ada pertanyaan ini? karena Ubuntu murni semuanya free open source, sedangkan MP3 tidak open source, sehingga tidak sesuai dengan filosofi Ubuntu. Jadi agar tidak mengusik filosifi Ubuntu, dibuatlah pilihan seperti ini. Klik tombol Forward untuk melanjutkan.
5. Pada layar “Allocate drive space”, ada tiga pilihan: pertama “Install Ubuntu alongside them”, kedua “Erase disk and install Ubuntu”, dan ketiga “Something else”. Untuk pilihan yang kedua “Erase and use the entire disk” sudah bisa dimengerti, bahwa installer akan menghapus semua isi dari disk (termasuk partisi) dan akan mengatur isinya sesuai kebutuhan Ubuntu. Jika pilihan ini yang Anda pilih, klik Forward dan silakan lanjutkan. Langkah selanjutnya saya memilih pilihan ke tiga, agar bisa dual booting. Memungkinkan kita melakukan konfigurasi partisi sesuai dengan yang kita mau. Tentu saja Anda perlu memahami tentang filesystem dan partisi. Klik tombol Forward.
6. Di langkah ini saya telah menyiapkan partisi kosong 15Gb dan berformat Ext4. Pada layar akan terlihat Mount point yang kita buat (/). Klik tombol Ok

 dan Install Now


 7. Pada layar “Where are you”, pilih kota tempat Anda berada. bisa diketik, atau dipilih langsung di peta. Klik tombol Forward untuk melanjutkan.

 8. Pada layar “Keyboard layout”, pilih tipe keyboard yang digunakan. biasanya Indonesia menggunakan Keyboard layout USA. Klik tombol Forward untuk melanjutkan.


9. Pada layar “Who are you?”, masukkan informasi yang diperlukan. Username harus huruf kecil semua tanpa spasi. Yang harus diingat adalah Username dan Password yang nanti akan digunakan untuk login dan melakukan administrasi pada sistem, jangan sampai lupa. Klik tombol Forward dan silakan lihat slide keunggulan Ubuntu sembari menunggu sistem diinstall ke dalam disk. Restart setelah selesai untuk mencoba Linux Ubuntu Anda. Jangan lupa mengeluarkan USB External Drive atau CD sebelum Restart.
Selamat Anda telah berhasil Linux UBUNTU 11.04 Natty Narwhal. Silakan komentar untuk memberikan pendapat atau pertanyaan.
Sumber: http://stupidbrain.my-goo.net/t96-cara-install-ubuntu-1104-natty-narwhal

Minggu, 26 September 2010

Peran SMK untuk dunia kerja

Sekolah sekarang menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Daya saing kerja semakin kejam yang suatu saat akan mematikan kita sendiri kalau kita tidak bisa mengikuti persaingan ini.
Salah satu yang ditawarkan pemerintah untuk menjalankan persaingan ini adalah dengan diadakannya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sekolah yang langsung dibeli modal ketrampilan dan kemampuan praktik langsung. 
Oleh karena itu siswa SMK bisa dikatakan setelah lulus siap masuk dunia kerja. Dengan kemampuan yang di miliki perusahaan yang merekrut tidak terlalu kesulitan untuk melatih mereka karena sudah mendapat modal sebelumnya dari sekolahnya. 
Selain itu dengan ketrampilan yang dimilikinya para siswa setelah lulus dapat membuka usaha sendiri atau berwiraswasta. Misal membuka bengkel yang dapat menrekrut tenaga sendiri, membuka jasa katering, memperbaiki mesin-mesin atau sebagainya.
Untuk saat ini yang lagi booming adalah sekolah Kejuruan yang mengambil bidang Informatika yaitu yang selalu berhubungan dengan komputer dan teknologi sekarang. Hampir semua instansi membutuhkan lulusan ini, baik sebagai operator, editor, bahkan programer yang setiap saat dapat menghasilkan program-program yang fantastik. Tidak salah bila pendidikan yang semakin berkembang ini disertai dengan berkembangnya SDM sehingga selain dapat mengurangi tingkat pengangguran juga dapat memberikan peluang usaha dengan usaha rintisannya sendiri.. >> itu menurut saya.. ^_^

Minggu, 29 Agustus 2010

Sejarah Singkat Bapak Pendidikan Indonesia

RADEN Masa Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, lahir pada 2 Mei 1889 di Jogjakarta. Ia berasal dari lingkungan keluarga keraton Jogjakarta. Usai menamatkan ELS atau Sekolah Dasar Belanda, ia meneruskan pelajarannya ke STOVIA atau Sekolah Dokter Bumiputera.

Tapi tidak sampai tamat karena ia sakit. Namun ia tak putus arang. Ia lalu menulis pada berbagai surat kabar seperti "Sedyotomo, Midden Java, De Express dan Utusan Hindia". Ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik di Budi Oetama. Ia juga pernah mendirikan sebuah partai politik bernama "Indische Partij" bersama tiga temannya yakni Dr Danudirdja Setyabudhi (FFE Douwes Dekker), dr Cipto Mangunkusumo dan Abdul Muis. Karena ditolak oleh pemerintah Belanda, maka mereka bertiga membentuk "Komite Bumiputera," sebuah organisasi tandingan dari komite yang dibentuk oleh Pemerintah Belanda.

Dengan itu, RM Suwardi membuat sebuah tulisan yang berjudul "Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda)" yang menyindir ketumpulan perasaan Belanda ketika menyuruh rakyat Indonesia untuk ikut merayakan pembebasan Belanda dari kekuasaan Perancis. Karena tulisan ini dianggap menghina pemerintah Belanda, maka Dr. Douwes Dekker pemilik koran "de Express" yang memuat tulisan tersebut. Mendapat hukuman pengasingan bersama dr Cipto Mangunkusumo dan teman-teman. Dari sinilah kemudian RM Suwardi banyak mendalami masalah pendidikan dan pengajaran di Belanda hingga mendapat sertifikasi di bidang ini.

Setelah pulang dari pengasingan, RM Suwardi bersama rekan-rekan seperjuangan mendirikan "Nationaal Onderwijs Instituut" atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan itu bercorak nasional dan berusaha menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa anak didik. Pernyataan asas dari Taman Siswa berisi 7 pasal yang memperlihatkan bagaimana pendidikan itu diberikan, yaitu untuk menyiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab, agar anak-anak berkembang merdeka dan menjadi serasi, terikat erat kepada milik budaya sendiri sehingga terhindar dari pengaruh yang tidak baik dan tekanan dalam hubungan kolonial, seperti rasa rendah diri, ketakutan, keseganan dan peniruan yang membuta.

Selain itu anak-anak dididik menjadi putra tanah air yang setia dan bersemangat, untuk menanamkan rasa pengabdian kepada bangsa dan negara. Dalam pendidikan ini nilai rohani lebih tinggi dari nilai jasmani. Pada tahun 1930 asas-asas ini dijadikan konsepsi aliran budaya, terutama berhubungan dengan polemik budaya dengan "Pujangga Baru". Selain mencurahkan dalam dunia pendidikan secara nyata di Tamansiswa, RM Suwardi juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisan-tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan. Tulisannya yang berisi konsep-konsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan jumlahnya mencapai ratusan buah. Melalui konsep-konsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Pemerintah Belanda merintangi perjuangannya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi beliau dengan gigih memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu dapat dicabut. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, Raden Mas Suwardi Suyaningrat berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara, dan semenjak saat itu beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. (bm-4/Sekolah Online Indonesia).